18 Agustus 2011

Sejarah Pendidikan Islam


BAB I
STUDI SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM


A.          PENGERTIAN SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM
Kata sejarah dalam bahasa Arab disebut Tarih, yang nenurut bahasa berarti ketentuan masa.  Sedang menurut istilah berarti “ keterangan yang telah terjadi di kalangannya pada masa yang telah lampau atau pada masa yang masih ada”. Kata tarih juga dipakai dalam arti perhitungan tahun,  seperti keterangan mengenai tahun sebelumnya atau sesudah Masehi dipakai sebutan sebelum atau sesudah tarih Masehi. Kemudian yang dimaksud dengan  ilmu tarih  ialah “suatu pengetahuan yang gunanya untuk mengetahui keadaan-keadaan atau kejadian-kejadian yang telah lampau maupun yang sedang terjadi di kalangan umat” 1 .
Dalam bahasa inggris sejarah disebut  histori,  yang berati “ pengalaman masa lampau daripada umat manusia” the past experience of mankind2. Pengertian selanjutnya memberikan makna sejarah sebagai catatan yang berhubungan dengan kejadian-kejadian masa silam yang diabadikan dalam laporan-laporan tertulis dan dalam ruang lingkup yang luas. Kemudian sebagai ilmu pengetahuan sejarah mengungkap peristiwa-peristiwa masa silam, baik peristiwa sosial, politik, ekonomi, maupun agama dan budaya dari suatu bangsa, negara atau dunia3.
Menurut Sayid Quthub “ Sejarah bukanlah peristiwa-peristiwa, melainkan tafsiran peristiwa-peristiwa itu, dan pengertian mengenai hubungan-hubungan nyata dan tidak nyata, yang menjalin seluruh bagian serta memberinya dinamisme dalam waktu dan tempat”.4

1)                 H. Munawar Cholil, Kelengkapan Tarih Nabi Muhammad SAW,  Bulan Bintang, Jakarta, 1969, hal. 15.
2)              Ensyclopedia Americana, vol. 14
3)              As Hornby, Oxford Advenced Learber’s Dictionary Of Current English.
4)              Sayid Quthub, Konsepsi Sejarah Dalam Islam, Yayasan AL-Amin, Jakarta, t.t., hal.18.
B.            OBYEK DAN METODE SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM
Sejarah biasanya ditulis dan dikaji dari sudut pandangan suatu fakta atau kejadian tentang peradaban bangsa5.  Maka obyek sejarah pendidikan islam mencakup fakta-fakta yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam bail informal, formal maupun non formal. Dengan demikan akan diperoleh apa yang disebut “Sejarah Serba Obyek”6.
Sebagai seorang ahli, maka sejarahwan harus mempunyai suatu kerangka berfikir kritis baik dalam mengkaji materi maupun dalam menggunakan sumber-sumbernya. Selain itu juga membutuhkan keterampilan menangkap dan merasakan secara luas hubungan-hubungan yang serba kompleks. Penguasaan ilmu yang luas akan memudahkan pemahaman dari berbagai konteks, membanding dan merasakan dampak serta mengkaitkan data dengan peristiwa-peristiwanya. Sehubungan dengan ini H. Munawar Cholil mengemukakan bahwa, pengetahuan yang diperlukan sebagai alat menusun sejarah itu cukup banyak, tetapi yang perlu diketahui terlebih dahulu adalah ilmu bumi (Takhtitul ard), ilmu isi bumi ( Tabaqatul ard), dan ilmu negara (Taqwimul- Buldan)7.
Akan tetapi, mengingat bahwa obyek sejarah pendidikan Islam sangat sarat dengan nilai-nilai agamawi, filosofi, psikologi dan sosiologi, maka perlu menempatkan obyek sasarannya itu secara utuh, menyeluruh dan mendasar. Sesuai dengan sifat dan sikap itu, makametode yang harus ditempuh pertama-tama deskriptif, kemudian komparatif dan ketiga analisis-sintesis tanpa menyingkirkan nilai agamawi tadi. Dengan cara deskriptif dimaksudkan bahwa ajaran-ajaran Islam, sebagai agama yang dibawa Rasulullah SAW dalam Qur’an dan Hadist, terutama yang berhubungan dengan pengertian Pendidikan, harus diuraikan sebagaimana adanya, dengan maksud untuk memahami makna yang terkandung dalam ajaran tersebut.

5)              Encyclopedia Americana, opcit., vol.14.
6)              Drs. Rachmat Iman Santoso, Penulis Sejarah Pendidikan Islam,  makalah Diskusi, IAIN Sunan Ampel Malang. 1975.
7)               Ibid
C.           KEGUNAAN SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM
Secara umum sejarah mengandung kegunaan yang sangat besar bagi kehidupan umat manusia8. Karena sejarah menyimpan atau mengandung kekuatan yang dapat menimbulkan dinamisme dan melahirkan nilai-nilai baru bagi pertumbuhan serta perkembangan kehidupan umat manusia. Sumber utama ajaran Islam (Al Qur’an) mengandung cukup banyak nilai-nilai kesejarahaan, yang langsung atau tidak langsungmengandung makna yang besar, perjalan yang sangat tinggi dan pimpinan utama, khusunya bagi umat Islam. Maka tarih dan ilmu tarih (sejarah) dalam Islam menduduki arti penting dan mempunyai kegunaan dalam kajian tentang Islam. Oleh sebab itu kegunaan sejarah pendidikan Islam meliputi dua aspek, yaitu kegunaan yang bersifat umum dan kegunaan yang bersifat akademis.
Yang besifat umum, sejarah pendidikan Islam mempunyai keguanaan sebagai faktor keteladanan. Hal ini sejalan dengan makna yang tersurat dan tersirat dalam firman Allah.

Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi  kamu sekalian. (Q.S. Al-Ahzab : 21)


Artinya : Katakanlah olehmu (Muhammad) : "Jika kamu sekalian cinta kepada Allah, maka hendaklah ikut aku, niscaya Allah cinta kepada kamu. (Q.S. Ali iImran : 31)




8)              H. Munawar Cholil, opcit, hal 20-21

Artinya : Dan hendaklah kamu mengikut akan dia (Nabi Muhammad) supaya kamu mendapat petunjuk. (Q.S. Al- A’raf : 158)

Berpedoman pada tiga ayat di atas, maka umat Islam dapat meneladani proses pendidikan Islam semenjak zaman kerasulan Muhammad SAW, zaman Khulafa’ur Rasyidin, zaman ulama-ulama besar dan para pemuka gerakan pendidikan Islam. Karena, secara global bahwa proses pendidikan Islam pada hakikatnya merupakan pengejawantahan (manifestasi) daripada pemikiran mereka tentang konsepsi Islam di bidang pendidikan, baik teoritik maupun pelaksanaannya (masa Nabi dan seterusnya).
Dan para ulam Islam sering mendenungkan akan pentingnya kegunaan tarih dan ilmu tarih, seperti yang diungkapkan oleh H. Munawar Cholil, bahwa : “Sesungguhnya pengetahuantarih itu banyak gunanya, baik urusan keduniaan maupun bagi urusan keakhiratan. Barang siapa hafal (mengeti benar) tentang tarih, bertambahlah akal pikirannya. Tarih itu bagi masa menjadi cermin. Sesungguhnya tarih itu menjadi cermin perbandingan bagi masa yang baru. Tarih dan ilmu tarih itu pokok kemajuan suatu umat, maka kala ada suatu umat tidak memperhatikan tarih dan ilmu, maka uamat itu tentulah akan ketinggalan di belakang (dalam kemunduran) ; dan mana kala suatu umat sungguh-sungguh memperhatikan tarih dan ilmu tarih, maka tentulah umat itu maju ke muka (dalam kemajuan)” 9.
Yang besifat akademis, keguanaan sejarah pendidikan Islam selain memberikan perbendaharaan perkembangan ilmu pengetahuan (teori dan praktek), juga untuk menumbuhkan perspektif baru dalam rangka mencari relevansi pendidikan Islam terhadap segala bentuk perubahan dan perkembangan ilmu teknologi.

9)              Ibid, hal 26-27.

Dalam  syllabus Fakultas Tarbiyah IAIN,  kegunaan studi sejarah pendidikan Islam diharapkan dapat :
1.                 Mengetahui dan memahami pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam, sejak zaman lahirnya sampai masa sekarang.
2.             Mengambil manfaat dari proses pendidikan Islam, guna memecahkan problematika pendidikan Islam pada masa kini.
3.             Memiliki sikap positif terhadap perubahan-perubahan dan pembaharuan-pembaharuan sistem pendidikan Islam.

D.           PERIODISASI SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM
Sejarah pendidikan Islam pada hakekatnya tidak lepas dari sejarah Islam. Oleh sebab itu periodesasi sejarah pendidikan Islam dapat dikatakan berada dalam periode-periode sejarah Islam itu sendiri. Secara garis besar Dr. Harun Nasution membagi sejarah Islam ke dalam tiga periode, yaitu periode klasik, pertengahan dan modern 10. Kemudian perinciannya dapat dibagi menjadi 5 masa, yaitu :
1.                 Masa hidupnya Nabi Muhammad SAW (571-632)
2.             Masa Khalifah empat (Khulafaur Rasyidin : Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali di Madinah (632-661 M) ;
3.             Masa kekuasaan Umawiyah di Damsyik (661-750 M) ;
4.             Masa kekuasaan Abbasiyah di Bagdad (750-1250 M) ; dan
5.              Masa dari jatuhnya kukuasaan khalifah di Bagdad tahun 1250 M sampai sekarang.
Pembagian 5 masa di atas dalam kaitannya dengan periodesasi sejarah pendidikan Islam nampak sebagaimana diuraikan pada bagian kedua. Akan tetapi dalam kaitannya dengan pendidikan Islam di Indonesia, maka cakupan pembahasannya akan berkaitan dengan sejarah Islam di Indonesia dengan fase-fase sebagai berikut :
1.                 Fase datangnya Islam ke Indonesia;
2.             Fase pengembangan dengan melalui proses adaptasi;
3.             Fase berdirinya kerajaan-kerajaan Islam (proses politik);
4.             Fase kedatangan orang Barat (zaman penjajahan);
5.              Fase penjajahan Jepang;
6.             Fase Indonesia merdeka; dan
7.              Fase pembanguanan

Sejarah pendidikan Islam yang terjadi di Indonesia secara periodesasi diungkapkan dalam uraian bagaian Ketiga. Dengan demikian periodesasi uraian tentang sejarah pendidikan Islam ini mencangkup periode sejarah Islam yang terjadi dalam kawasan dunia Islam dan dalam kawasan Indonesia. Hal ini erat kaitannya dengan kepentingan studi atau kajian Islam di Indonesia.

BAB II
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
PENDIDIKAN ISLAM

Proses pendidikan sebenarnya telah berlangsung sepanjang sejarah dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial budaya manusia di muka bumi.
Sementara itu Allah telah menurunkan petunjuk-petunjuk menjaga dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan sosial budaya tersebut, agar tidak menyimpang dari tujuan penciptaan alam dan manusia itu sendiri. Firman Allah yang menjanjikan ketentraman hidup bagi manusia yang mengikuti petunjuknya :
  

Artinya : kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (Q.S. Al Baqorah : 38).
Petunjuk-petunjuk tersebut, disampaikan kepada manusia melalui rasul-rasul Allah, pada masa dan kondisi di mana manusia dan perkembangan budayanya membutuhkan. Petunjuk-petunjuk Allah melalui para rasul ternyata bukan hanya menyangkut pengembangan al-asma al-husna saja tetapi juga berkaitan dengan pengembangan al-asma al-husna secara keseluruhan.
Pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam, terbagi menjadi 5 periode, yaitu :
1.                 Periode pembinaan pendidikan Islam, yang berlangsung sejak zaman Nabi Muhammad SAW.
2.             Periode pertumbuhan pendidikan Islam, yang berlangsung sejak Nabi Muhammad SAW wafat sampai masa akhir Bani Umaiyah, yang diwarnai dengan berkembangnya ilmu-ilmu naqliah.
3.             Periode kejaan (puncak perkembangan) pendidikan Islam, yang berlangsung sejak permulaan daulah Abbasiyah samapai dengan jatuhnya Bagdad, yang diwarnai oleh berkembangnya ilmu akliah dan timbulnya madrasah, serta memuncakknya perkembangan kebudayaan Islam.
4.             Periode pembaharuan pendidikan Islam, yang berlangsung sejak pendudukan Mesir oleh Napoleon samapai masa kini, yang ditandai gejala-gejala kebangkitan kembali umat dan kebudayaan Islam.

A.    MASA PEMBINAAN PENDIDIKAN ISLAM
Dengan masa pembinaan pendidikan Islam, yang dimaksudkan adalah masa di mana proses penurunan ajaran Islam kepada Muhammad SAW dan proses pembudayaannya (masuk ke dalam kebudayaan manusiawi, sehingga diterima dan menjadi unsur yang menyatu dalam kebudayaan manusia) berlangsung. Masa tersebut berlangsung sejak Nabi Muhammad menerima wahyu dan menerima pengangkatannya sebagai rasul, samapai dengan lengkap dan sempurnanya ajaran Islam menjadi warisan budaya umat Islam, sepeninggal Muhammad SAW . Masa tersebut berlangsung selama 22 atau 23 tahun, sejak beliau menerima wahyu pertama kali, yaitu 17 Ramadhan 13 tahun sebelum H (bertepatan dengan 6 Agustus 610 M) sampai dengan wafatnya pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal 1 H ( bertepatan dengan 8 Juni 832 M)1. .
Bahwa datangnya ajaran yang dibawa oleh para rasul yang telah diutus oleh Allah, adalah untuk meluruskan dan memacu perkembangan budaya umat manusia. Demikian pula halnya dengan ajaran Islam yang dibawa Muhammad, yang dalam bentunya yang terakhir, berfungsi untuk meluruskan perkembangan budaya umat manusia yang ada pada zamannya dan memacu perkembangan selanjutnya.
Sebgaimana ditegaskan dalam fiman Allah :

Artinya : Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. ( Q.S. Saba’ : 28).
1)                 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Muqadimah, 1978, hal. 591

Artinya : Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. ( Q.S. Al Anbiyaa’ : 107)

Namun demikian, ia memulai dan berhadapan langsung dengan warisan budaya bangsanya (bangsa Arab) karena di sanalah ia lahir meskipun ia diutus oleh Allah untuk seluruh alam (manusia).
Bangsa Arab adalah keturunan Ibrahim dari anaknya Ismail, oleh karena pada hakekatnya kebudayaan bangsa Arab yang dihadapi oleh Muhammad adalah warisan budaya Nabi Ibrahim, maka tentunya masih juga terdapat unsur-unsur ajaran Islam yang telah dibudayakan oleh Ibrahim dan Ismail ke dalamnya .
Intisari warisan Ibrahim denangan Ka’bah sebagai pusatnya adalah ajaran Tauhid. Dan Muhammad memulai tugasnya dengan membersihkan tauhid ini dari syirik dan penyembahan terhadap berhala- berhal, sehingga mutiara tauhid yang telah pudar cahanya pada masa itu menjadi cemerlang kembali dan menyinari seluruh segi warisan yang ada.
Intisari ajaran tauhid yang dibawa oleh Muhammad dan yang digunakan olenya untuk mengadakan operasi pembedahan  terhadap warisan Ibrahim yang telah banyak menyimpang dari aslinya tersebut. Terlukiskan dalam Surat Al- Fatihah (pembuka) yang merupakan intisari dari seluruh wahyu Allah yang di wahyukan kepada Muhammad sebagaimana tercantum Mushaf Al-Qur’an :

Muhammad menggunakan Surah Al Fatihah tersebut sebagai alat dan sekaligus kriteria atau pedoman dalam melakasnakan “ operasi pembedahan”  terhadap warisan Ibrahim. Kemudian dalam prakteknya (pelaksanaan) “ operasi pembedahan” tersebut, ia selalu menerima petunjuk (pengarahan atau bimbingan) dan intruksi dari Allah  melalui wahyu-wahyu yang diturunkan kemudian.
Dengan demikian pelaksanaan pendidikan Islam pada masa pembinaannya ini, dilaksanakan oleh Muhammad berdasarkan petunjuk dan bimbingan langsung dari Allah. Muhammad menerima petunjuk (wahyu) dari Allah, dan menyampaikannya kepada umatnya, agar kumpulan dari wahyu-wahyu tersebut yang kemudian desebut Al-Qur’an, diterima dan dijadikan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan umatnya.
Pelaksanaan pembinaan pendidikan Islam pada zaman Nabi tersebut dapat dibedakan menjadi 2 tahap, baik dari segi waktu dan tempatnya penyelenggaraan, maupun dari segi isi dan materi pendidikannya, yaitu :
1.                 Tahap atau fase Makkah, sebagai fase awal pembinaan pendidikan Islam, dengan Makkah sebagai pusat kegiatannya, dan
2.             Tahap atau fase Madinah, sebagai fase lanjutan (penyempurnaan) pembinaan atau pendidikan Islam dengan Madinah sebagai pusat kegiatannya.
Peristiwa hijrah telah membedakan antara kedua fase tersebut.

1.        Pelaksanaan Pendidikan Islam di Makkah
Diantara tradisi yang terdapat di kalangan masyarakatnya, yang rupanya juga warisan Ibrahim, adalah tradisi bertahannus, yaitu suatu caya menjauhkan diri dari keramaian orang, berkhalwat dan mendekatkan diri pada Allah, dengan bertapa dan berdo’a mengharapkan diberi rejeki dan pengetahuan2.


2)              Haekal I, op.cit, hal. 81.

Muhammad mulai menerima wahyu dari Allah sebagai petunjuk dan instruksi untuk melaksanakan tugasnya, sewaktu beliau telah mencapai umur 40 tahun, yaitu pada tanggal 17 Ramadhan tahun 13 sebelum H (6 Agustus 610 M). petunjuk dan Intruksi tersebut berbunyi :

Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. Al ‘Alaq : 1-5).

Kemudian disusul dengan wahyu yang berikutnya, yang berbunyai :

Artinya :  Hai orang yang berkemul (berselimut). Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlan. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. (Q.S Al Muddatstsr : 1-7).

Perintah dan petunjuk tersebut pertama-tama tertuju kepada Muhammad SAW tentang apa yang harus ia lakukan, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap umatnya. Itulah petunjuk awal kepada Nabi Muhammad SAW agar beliau memberikan peringatan kepada umatnya. Kemudian bahan atau materi pendidikan tersebut diturunkan secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit. Setiap kali menerima wahyu, segera ia sampaikan kepada umatnya, diiringinya penjelasan-penjelasan dan contoh-contoh bagaimana pelaksanaannya.
Kebijakan Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan ajaran Islam yang demikian itu, berdasarkan petunjuk langsung Allah, sebagaimana firman Allah :


Artinya :  Maka janganlah kamu menyeru (menyembah) Tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang di'azab. Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu Maka Katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan". (Q.S Asy Syu’araa’ : 213-216).

Dan keadaan demikian itu berlangsung samapai lebih dari 3 tahun samapi akhirnya turun petunjuk dan perintah dari Allah, agar Nabi memberikan pendidikan dan seruannya secara terbuka.

a.     Pendidikan tauhid, dalam teori dan praktek
Muhammad mendapat kesadaran dan penghayatan yang  mantap tentang ajaran tauhid, yang intisarinya adalah sebagaimana tercermin dalam Surat Al Fatihah. Pokok-pokoknya adalah :
1.                 Bahwa Allah adalah pencipta alam semesta yang sebenarnya, Dilah satu-satunya yang menguasai dan mengatur alam ini sedemikian rupa, sehingga merupakan tempat yang sesuai dengan kehidupan manusia.
2.             Bahwa Allah telah memberikan nikmat, memberikan sega keperluan bagi semua makhluk-Nya, dan khusus  kepada manusia ditambah dengan petunjuk dan bimbingan agar mendapat kebahagiaan hidup sebenar-benarnya.
3.             Bahwa Allah adalah raja hari kemudian, telah memberikan pengertian bahwa segala amal perbuatan manusia sewaktu-waktu di dunia ini akan di perhitungkan di sana.
4.             Bahwa Allah adalah sesembahan yang sebenarnya dan yang satu-satunya.
5.              Bahwa Allah adalah penolong yang sebenarnya, dan oleh karenanya hanya kepada-Nya lah manusia harus meminta pertolongan.
6.             Bahwa Allah sebenarnya yang membimbing dan memberi petunjuk kepada manusia dalam mengarungi kehidupan dunia yang penuh dengan rintangan, tantangan dan godaan.

Mahmud Yunus, dalam bukunya Sejarah Pendidikan Islam,  menyatakan bahwa pembinaan pendidikan Islam masa Makkah ini meliputi :
1.                 Pendidikan Keagamaan, yaitu hendaklah membaca dengan nama Allah semata-mata, jangan dipersekutukan dengan nama berhala dll.
2.             Pendidikan Akliyah dan ilmiyah, yaitu mempelajari kejadian manusia dari segumpal darah dan kejadian alam semsta.
3.             Pendidikan akhlak dan budi pekerti, Nabi Muhammad SAW mengajar sahabatnya agar berakhlak baik sesuai dengan ajaran tauhid.
4.             Pendidikan Jasmani (kesehatan), yaitu mementingkan kebersihan pakaian, badan dan tempat  kediaman3.

b.     Pengajaran Al-Qur’an di Makkah
Al-Qur’an adalah merupakan intisari dan sumber pokok dari ajaran Islam yang disampaikan oleh Muhammad SAW kepada umatnya. Tugas Muhammad di samping mengajarkan tauhid juga mengajarkan Al-Qur’an kepada umatnya, agar secara utuh dan sempurna menjadi milik umatnya, yang selanjutnya akan menjadi warisan ajaran secara turun-temurun, dan menjadi pegangan dan pedoman hidup bagi kaum muslimin sepanjang zaman.


3)              Mahmud Yunus, op.cit., hal 5-6

Pada masa permulaan Nabi Muhammad SAW  mengajarkan Islam di Makkah, telah ada beberapa orang di kalangan masyarakatnya yang pandai tulis-baca. Mereka antara lain :
1.                 Umar bin Khattab
2.             Ali bin Abi Thalib
3.             Usman bin Affan
4.             Abu Ubaidah bin Al Jarrah
5.              Talhah
6.             Yazid bin Abu Sufyan
7.              Abu Hudaifah bin Utbah
8.              Abu Sufyan bin Harb
9.             Mu’awiyah bin Abu Sufyan
10.         Dll.
Bahkan terdiri dari kaum wanita :
1.                 Hafsah isteri Nabi Muhammad SAW
2.             Ummi Kulsum binti Uqbah
3.             Aisyah binti Sa’d
4.             Al-Syifak binti Abdullah Al-Adawiyah
5.              Karimah binti Al-Miqdad

2.      Pelaksanaan Pendidikan Islam di Madinah
Hijrah dari Makkah ke Madinah bukan hanya sekedar berpindah dan menghindarkan diri dari tekanan dan ancaman kaum Quraisy dan penduduk Makkah yang tidak menhendaki pembaharuan terhadap ajaran nenek moyang mereka, tetapi juga mengandung maksud untuk mengatur potensi dan menyusun kekuatan dalam menghadapi tantangan-tantangan lebih lanjut, sehingga akhirnya nanti terbentuk masyarakat baru yang dio dalamnya bersinar kembali mutiara tauhid warisan Ibrahim yang akan di sempurnakan oleh Muhammad SAW melalui wahyu Allah.
                Tetapi ternyata lingkungan yang baru tersebut, bukanlah lingkungan yang betul-betul baik, yang tidak menimbulkan permasalahan-permasalahan. Di Madinah, Nabi Muhammad SAW menghadapi kenyataan-kenyataan yang menimbulkan permaslahan baru. Beliau menghadapi kenyataan bahwa umatnya terdiri dari dua kelompok yang berbeda latar belakangnya kehidupannya, yaitu :
1.                 Mereka yang berasal dari Makkah yang disebut  Muhajirin
2.             Mereka yang merupakan penduduk asli Madinah yang disebut  kaum Ansor.

Ø  Pembentukan dan pembinaan masyarakat baru, menuju satu kesatuan sosial dan politi.
Masalah pertama yang dihadapi oleh Nabi Muhammad SAW dan kaum Muhajirin, adalah Tempat tinggal. Untuk sementara kaum Muhajirin bisa menginap di rumah-rumah kaum Ansor, tetapi beliau sendiri memerlukan suatu tempat khusus di tengah-tengah umatnya, sebagai pusat kegiatan, sekaligus sebagai lambang persatuan dan kesatuan di antara kedua kelompok masyarakat yang mempunyai latar belakang kehidupan yang berbeda itu.
Dipihak lainya, kaum musyrikin Makkah merupakan ancaman yang harus selalu dihadapi dengan cukup waspada. Adalah sangat mungkin jika kaum musyrikin Makkah bekerjasama dengan kaum musyrikin Madinah, atau dengan orang-orang Yahudi, bahkan dengan kabilah-kabilah lain disekitar Madinah, dalm usaha menhancurkan umat Islam dan masyarakat yang baru di bentuk itu.

Ø  Pendidikan Sosial Politik dan Kewaganegaraan
Materipendidikan sosial dan kewarganegaraan Islam pada masa itu adalah pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam Konstitusi Madinah, yang dalam prakteknya diperinci lebih lanjut dan disempurnakan dengan ayat-ayat yang turun selama periode Madinah. Nabi Muhammad SAW  sebagai pendidik telah memberikan contoh dan teladan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari, di samping penjelasan-penjelasan dan instruksi-instruksi kepada umatnya dalam melaksanakan berbagai kegiatan baik perorangan, kelompok maupun umat secara keseluruhan.
Tujuan pembinaan adalah agar secara berangsur-angsur, pokok-pokok pikiran Konstitusi Madinah diakui dan berlaku bukan hanya di Madinah saja, tetapi lebih luas, baik dalam kehidupan bangsa Arab maupun dalam kehidupan bangsa-bangsa di seluruh dunia.

Pelaksanaan atau praktek Pendidikan Sosial Politik dan K ewarganegaraan secara ringkas yaitu :
1.                 Pendidikan ukhuwah (persaudaraan) antar kaum muslimin;
2.             Pendidikan kesejahteraan sosial;
3.             Pendidikan kesejahteraan keluarga kaum kerabat;

Ø  Pendidikan anak dalam Islam
Garis-garis besar materi pendidikan anak dalam Islam yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam Surat Luqman ayat 13-19 yaitu :
1.                 Pendidikan tauhid, yaitu menanamkan keimanan kepada Allah sebagai Tuhan (sesembahan) yang Maha Esa.
2.             Pendidikan Salat;
3.             Pendidikan adab sopan santun dalam keluarga;
4.             Pendidikan adab sopan santun dalam bermasyarakat (kehidupan sosial);
5.              Pendidikan kepribadian;

Ø  Pendidikan Hankam (Pertahanan dan Keamanan) dakwah Islam
Setelah berlakunya Konstitusi Madinah, maka kaum muslimin secara resmi menjadi satu kesatuan sosial dan politik atau masyarakat yang berdaulat sendiri, dan diakui kedaulatannya oleh masyarakat sekeliling.


B.     MASA PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM
Pada masa pembinaannya yang berlangsung pada zaman Nabi Muhammad SAW, pendidikan Islam berarti memasukkan ajaran Islam ke dalam unsur-unsur budaya bangsa Arab pada masa itu.
Dalam pembinaan tersebut, ada berbagai kemungkinan yang terjadi, yaitu :
§  Adakalanya Islam mendatangkan sesuatu unsur yang sifatnya memperkaya dan melengkapi unsur budaya yang telah ada, seperti Al-Qur’an.
§  Adakalanya Islam mendatangkan sesuatu ajaran yang sifatnya meluaskan kembali nilai-nilai yang ada dalm kenyataan praktisnya sudah menyimpang dari ajaran aslinya.
§  Adakalanya Islam m,endatangkan ajaran yang sifatnya bertentangan sama sekali dengan budaya yang ada sebelumnya.
§  Islam mendatangkan ajaran baru yang belum ada sebelumnya, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan perkembangan budayanya.

1.        Pusat-pusat Pendidikan Islam
Mahmud Yunus dalam bukunya  sejarah Pendidikan Islam, menerangkan bahwa pusat-pusat pendidikan tersebut tersebar di kota-kota besar sebagai berikut :
a)             Di kota Makkah dan Madinah (Hijaz);
b)            Di kota Basrah dan Kufah (Irak);
c)             Di kota Damsyik dan Palestina (Syam);
d)            Di kota Fistat (Mesir).
Madrasah-madrasah yang terkenal pada masa pertumbuhan pendidikan Islam yaitu :
a)             Madrasah Makkah
Guru pertamanya yang mengajar di Makkah, ialah Mu’ad bin jabal. Ialah yang mengajarkan Al-Qur’an, hukum-hukum halal dan haram dalam Islam. Pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan (65-86 H), Abdullah bin Abbas pergi ke Makkah, lalu mengajar disana. Ia mengajarkan Tafsir, Hadist, Fiqh dan Sastra. Diantara murid-murid Ibn Abdullah yang menggantikannya sebagai guru di Madrasah ini adalah : Mujahid bin Jabbar, seorang ahli tafsir Al-Qur’an.
b)            Madrasah Madinah
Madrasah Madinah lebih termansyur, karena di sanalah tempat khalifah Abu Bakar, Umar dan Usman, dan di san pula banyak tinggal sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW. Sahabat yang mengajar di Madrasah ini adalah : Umar bin Khattab, Ali bin Abi Talib, Zaid bin Sabit dan Abdullah bin Umar.

Zaid bin Sabit adalah seorang yang ahli Qiraat dan Fiqh, beliaulah yang mendapat tugas memimpin penulisan kembali Al-Qur’an, baik zaman Abu Bakar maupun di zaman Usman bin Affan. Sedangkan Abdullah bin Umar adalah seorang ahli hadis. Beliau dianggap sebagai pelopor mazab Ahl al Hadist yang berkembang pada masa-masa berikutnya.

c)             Madrasah Basrah
Ulama sahabat yang terkenal di Basrah ialah Abu Musa Al-Asy’ari dan Anas bin Malik. Abu Musa terkenal sebagai ahli Fiqh, Hadist dan ilmu Al-Qur’an, sedangkan Anas bin Malik termasyur dalam ilmu Hadist. Guru termasyur : Hasan Al-Basri dan Ibn Sirin.
d)            Madrasah Kufah
Ulama sahabat yang tinggal di Kufah ialah Ali bin Abi Talib dan Abdullah bin Mas’ud. Ali bin Abi Talib mengurus masalah politik dan urusan pemerintahan, sedangkan Abdullah bin Mas’ud sebagai guru agama.
e)             Madrasah Damsyik
Setelah negeri Syam (Syria) menjadi bagaian negara Islam dan penduduknya banyak memeluk agama Islam, maka khalifah Umar bin Khattab mengirim 3 orang guru ke negara itu, yaitu Muaz bin Jabal, Ubadah dan Abu Dardak.

f)                Madrasah Fistat (Mesir)
Yang mendirikan dan sekaligus menjadi guru di Mesir adalah Abdullah bin AMR BIN Al-As, ia adalah seorang ahli Hadist. Ia tidak hanya menghafal hadist-hadist yang didengarnya dari Nabi Muhammad SAW melainkan juga menuliskannya dalam catatan, sehingga ia tidal lupa atau khilaf dalam meriwayatkan hadist-hadist itu kepada merid-muridnya.
Ulama-ulama sahabat yang termasyur diantaranya :
Ø  Abdullah bin Umar di Madinah
Ø  Abdullah bin Mas’ud di Kufah
Ø  Abdullah Abbas di Makkah
Ø  Abdullah bin Amr bin Al-Ash di Mesir
2.      Pengajaran Al-Qur’an
Intisari ajaran Islam adalah apa yang terkatub dalam Al-Qur’an. Sedangkan Hadist ataupun Sunnah Rasulullah yang merupakan penjelasan dari apa-apa yang dimaksudkan oleh Al-Qur’an.
            Manfaat pembukuan Al-Qur’an di masa Usman adalah :
a.               Menyatukan kaum muslimin pada satu macam mushaf yang seragam ejaan tulisannya;
b.              Menyatukan bacaan, dan kendatipun masih ada perbedaannya namun harus tidak berlawanan dengan ejaan Mushaf Usman. Dan baca-bacaan yang tidak sesuai tidak diperbolehkan;
c.               Menyatukan tertib susunan surat-surat, menurut tertib urut sebagai yang kelihatan pada mushaf-mushaf sekarang.

3.      Pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Islam
Akhibata dari pendidikan adalah mewariskan nilai budaya kepada generasi muda dan mengembangkannya. Oleh karenanya pendidikan Islam kepada generasi muda dan mengembangkannya sehingga mencapai dan memberikan manfaat maksimal bagi hidup dan kehidupan manusia sesuai dengan tingkat perkembangannya.

                                Pemikirian Islam dam pertumbuhananya muncul 3 pola, yaitu :
a.               Pola pemikiran yang bersifat skolastik, yang terikat pada dogma-dogma dan berpikir dalam rangka mencari pembenaran terhadap dogma-dogma agama.
b.              Pola pemikiran yang bersifat rasional, yang lebih mengutamakan akal pikiran.
c.               Pola pemikiran yang bersifat batiniyah dan intuitif, yang berasal dari mereka yang mempunyai pola kehidupan sufitis.
C.     MASA KEJAYAAN PENDIDIKAN ISLAM
Masa ini ditandai dengan berkembang luasnya lembaga-lembaga pendidikan Islam dan madrasah-madrasah (sekolah-sekolah) formal serta universitas-universitas dalam berbagai pusat kebudayaan Islam.
1.        Berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan Islam
a.               Kuttab sebgai lembaga pendidikan dasar
Kuttab atau maktab, berasal dar kata dasar kataba yang berarti manulis atau tempat menulis. Jadi katab adalah tempat belajar menulis.
b.              Pendidikan rendah di Istana
Timbulnya pendidikan rendah di Istana untuk anak-anak para pejabat, adalah berdasarkan pemikiran bahwa pendidikan itu hanya bersifat menyiapkan anak didik agar mampu melaksanakan tugas-tugasnya kelak setelah dewasa.
c.               Toko-toko Kitab
Pada mulanya toko-toko kitab tersebut berfungsi sebagai tempat berjual beli kitab-kitab yang ditulis dengan berbagai ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu.
d.              Rumah-rumah para ulama (ahli ilmu pengetahuan)
Di antara rumah ulama terkenal yang menjadi tempat belajar adalah rumah Ibn Sina, Al-Gazali, Ali Ibn Muhammad Al-Fasihi, Ya’qub Ibn Killis, Wazir Khalifah Al-Aziz billah Al-Fatimy, dan lain-lain.
e.               Majlis atau Saloon kesusasteraan
Dengan maksud suatu majlis khusus yang diadakan oleh khalifah untuk membahas berbagai macam ilmu pengetahuan.
f.                  Badiah (padang pasir, dusun tempat tinggal Badwi)
Sejak berkembang luasnya Islam, dan bahasa Arab digunakan sebagai bahasa pengantar oleh bangsa-bangsa di luar bangsa Arab yang beragama Islam.
g.              Rumah sakit
Didirikan selain sebagai rumah sakit juaga berfungsi sebagai tempat mendidik tenaga-tenaga yang berhubungan dengan perawatan dan pengobatan.
h.              Perpustakaan
Pada zaman perkembangan ilmu pemngetahuan dan kebudayaan Islam, buku mempunyai nilai yang sangat tinggi. Buku adalah sumber informasi berbagai ilmu pengetahuan yang ada dan telah dikembangkan oleh para ahlinya.
i.                  Masjid
Semenjak berdirinya di zaman Nabi Muhammad SAW masjid telah menjadi pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kehidupan kaum muslimin.

2.      Sistem pendidikan di sekolah-sekolah
Faktor penyebab berdirinya sekolah-sekolah luar masjid :
a.               Khalaqah-khalaqah (lingkaran) untuk mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan, yang di dalamnya juga terjadi diskusi dan perdebatan yang ramai, sering satu sama lain saling menganggu disamping pula mengganggu orang-orang yang beribadah dalam masjid.
b.              Dengan berkembang luasnya ilmu pengetahuan, baik mengenai agama maupun umum maka diperlukan semakin banyak khalaqah-khalaqah(lingkaran-lingkaran pembelajaran), yang tidak mungkin keseluruhan tertampung didalam ruang masjid.

Mahmud  Yunus, secara garis besar menggambarkanpola-pola rencana pelajaran pada berbagai tingkatpendidikan :
a.               Rencana pelajaran kuttab (pendidikan dasar) ;
§  Membaca Al-Qur’an dan menghafalnya;
§  Pokok-pokok agama Islam, seperti cara berwudlu, salat, puasa dsb;
§  Menulis;
§  Kisah atau riwayat orang-orang besar Islam;
§  Membaca dan menghafal syair-syair atau nasar (prosa);
§  Berhitung;
§  Pokok-pokok nahwu dan saraf ala kadarnya.
b.              Rencana pelajaran tingkatan menengah ;
§  Al-Qur’an ;
§  Bahasa Arab dan kesusatraannya;
§  Fiqh;
§  Tafsir;
§  Hadist;
§  Nahwu/saraf/balagah;
§  Ilmu-ilmu Pasti;
§  Mantiq;
§  Ilmu Falak;
§  Tarih (sejarah);
§  Ilmu-ilmu Alam;
§  Kedokteran;
§  Musik.
c.               Rencana pelajaran pada pendidikan tinggi
Ø  Jurusan ilmu-ilmu agama dan bahasa serta sastra Arab atau ilmi-ilmu Naqliyah :
§  Tafsir Al-Qur’an;
§  Hadist;
§  Fiqh dan Ushul Fiqh;
§  Nahwu/saraf;
§  Balagah;
§  Bahasa Arab dan kesusatraannya.
Ø  Jurusan ilmu-ilmu umum atau ilmu Aqliyah :
§  Mantiq;
§  Ilmu-ilmu alam dan kimia;
§  Musik;
§  Ilmu-ilmu pasti;
§  Ilmu ukur;
§  Ilmu falak;
§  Ilmu iiahiyah (ketuhanan);
§  Ilmu Hewan;
§  Ilmu tumbu-tumbuhan;
§  Kedokteran.

D.     MASA KEMUNDURAN PENDIDIKAN ISLAM
Diungkapkan oleh M.M Sharif, bahwa pikiran Islam menurun setelah abad ke XIII M dan terus melemah samapai abad ke XVIII M. Di antara sebab-sebab melemahnya pikiran Islam tersebut antara lain dilukiskannya:
a.               Telah berlebihan filsafat Islam (yang bercorak sufistis) yang dimasukkan oleh Al-Gazali dalam alam Islami di Timur dan berlebihan pula Ibn  Rusyd dalam memasukkan silsafat Islam (yang bercorak rasinalisme) ke dunia Islam di Barat.
b.              Umat Islam, terutama para pemerintah 9khalifah, sultan, amir-amir) melainkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan dan tidak memberi kesempatan untuk berkembang.
c.               Terjadinya pemberontakan-pemberontakan yang dibarengi dengan serangan dari luar, sehingga menimbulkan kehancuran-kehancuran yang mengakhibatkan berhrntinya kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan dan budaya di dunia Islam.

Kebekuan intelektual dalm kehidupan kaum muslimin yang diwarnai dengan berkembangnya dengan berbagai macam aliran sufi karena toleren terhadap ajaran mistik yang berasal dari agama lain (Hindu, Budha, maupun Non Platonisme, telah memunculkan berbagai macam tarikat yang menyimpang jauh dari ajaran Islam.


E.      MASA PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM
Setelah warisan filsafat dan ilmu pengetahuan Islam diterima oleh bangsa Eropa dan umat Islam sudah tidak memperhatikannya lagi maka secara berangsur-angsur telah membangkitkan kekuatan di Eropa dan menimbulkan kelemahan di kalangan umat Islam.


1.                 Pola-pola pembaharuan pendidikan Islam
Tiga pola pikiran pembaharuan pendidikan Islam :
a.               Pola pembaharuan pendidikan Islam yang berorientasi kepada pola pendidikan modern di Eropa;
b.              Berorientasi dan bertujuan untuk pemurnian kembali ajaran Islam;
c.               Berorientasi pada kekayaan dan sumber budaya bangsa masing-masing dan yang bersifat nasionalisme.
2.             Dualisme Sistem Pendidikan Islam
Sebagai akhibat dari usaha-usaha pembaharuan pendidikan Islam yang dilaksanakan dalam rangka untuk mengejar kekurangan dan ketinggalan dari dunia Barat dalam segala aspek kehidupan, maka terdapat kecenderungan adanya dualisme dalam sistem pendidikan umat Islam.

BAB III
PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

A.          PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

1.                 Masa masuk dan berkembangnya Islam
a.               Akselerasi perkembangan Islam pada umumnya.
Akselerasi dan dinamika penyebaran Islam tersebut disebabkan adanya faktor-faktor khusus yang dimiliki oleh Islam pada periode permulaannya. Faktor-faktor positif itu :
§  Faktor ajaran Islam itu sendiri.
§  Faktor tempat kelahiran Islam, yaitu Jazirah Arabia
b.              Masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia
Ada 2 faktor yanmg menyebabkan Indonesia mudah dikenal oleh bangsa-bangsa lain, khususnya oleh bangsa-bangsa di Timur Tengah dan Timur Jauh sejak dahulu kala, yaitu :
§  Faktor letak geografisnya yang strategis. Indonesia berada di persimpangan jalan raya Internasional dari jurusan Timur Tengah menuju Tongkok, melalui lautan dan jalan menuju benua Amerika dan Australia.
§  Faktor kesuburan tanahnya yang menghasilkan bahan-bahan keperluan hidup yang dibutuhkan oleh bangsa-bangsa lain, misal : rempah-rempah.

Proses pembentukan dan pengembangan masyarakat Islam yang pertama melalui bermacam-macam kontak, misalnya : kontak jual beli, kontak perkawinan dan kontak dakwah langsung, baik secara individu maupun kolektif.



Zaman kerajaan Islam ke-I di Aceh
Ada 2 faktor penting yang menyebabkan masyarakat Islam mudah berkembang di Aceh, yaitu :
a.               Letak yang strategis dalam hubungannya dengan jalur Timur Tengah dan Tiongkok.
b.              Pengaruh Hindu-Budha dari kerajaan Sri Wijaya di Palembang tidak berakar kuat di kalangan rakyat Aceh, karena jarak antara Palembang dan Aceh cukup jauh.

Kerajaan Islam yang pertama di Indonesia adalah Pase atau kerajaan Samudera di daerah Aceh yang berdiri pada abad ke 10 M dengan raja pertamanya Al Malik Ibrahim bin Mahdum, yang kedua bernama Al Malik Sabar Syah (tahun 1444 M/ abad ke 15M).

Tentang Walisongo
Adapun Walisongo itu :
1.                 Maulana Malik Ibrahim = Maulana Syekh Magribi
2.             Sunan Ampel = Raden Rahmat
3.             Sunan Bonang = Maulana Ibrahim
4.             Sunan Derajat = Raden Qasim
5.              Sunan Giri = Raden Paku = R. Ainulyaqin
6.             Sunan Kudus = R. Amin Haji = Ja’far Sadiq
7.              Sunan Muria = R. Prawoto = R. Said
8.              Sunan Kalijaga = R. Syahid
9.             Sunan Gunung Jati – R. Abd. Qadir = Syarif Hidayatullah = Fatatehah = Fatahillah.

Kerajaan Islam di Maluku
Islam masuk ke Maluku di bawa oleh Muballig dari Jawa sejak zaman Sunan Giri dari Malaka. Raja Maluku yang pertama masuk Islam adalah Sultan Ternate bernama Marhum pada tahun 1465-1486 M, atas pengaruh Maulana Husain, saudagar dari Jawa. Rama Maluku yang terkenal di bidang pendidikan dan dakwah Islam ialah Sultan Zainul Abidin, tahun 1486-1500 M.

                Kerajaan Islam di Kalimatan
Islam mulai masuk di Kalimantan pada abad ke-15 M dengan cara damai, di bawa oleh buballig dari jawa. Sunan Bonang dan Sunan Giri mempunyai santri-santri dari Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.
Perkembangan Islam mulai mantap setelah berdirinya kerajaan Islam di Bandar Masih di bawah pimpinan Sultan Suriansyah tahun 1540 M bergelar Pangeran Samudera dan dibantu oleh Patih Masih.
Pada tahun 1710 di Kalimantan terdapat seorang ulama besar bernama Syekh Arsyad Al-Banjari dari desa Kalampayan yang terkenal sebagai pendidik dan muballig besar. Pengaruhnya meliputi seluruh Kalimantan (selatan, timur dan barat).

                Kerajaan Islam di Sulawesi
Kerajaan yang mula-mula berdasarkan Islam adalah kerajaan Kembar Gowa Tallo tahun 1605 M. Rajanya bernama I. Mallingkaang Daeng Manyonri yang kemudian berganti nama dengan Sultan Abdullah Awwalul Islam.

2.      Berbagai kebijakan pemerintah Belanda dan Jepang dalam bidang pendidikan Islam
a.               Masa penjajahan Belanda
b.              Masa penjajahan Jepang

3.      Berbagai kebijakan pemerintah Republik Indonesia dalam bidang pendidikan Islam
Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka. Tapi musuh-musuh Indonesia tidak diam, bahkan berusaha untuk menjajah kembali. Pada bulan Oktober 1945 para ulama di Jawa memploklamsikan perang Jihad Fisabilillah terhadap Belanda atau Sekutu.

B.     ORGANISASI, LEMBAGA DAN TOKOH-TOKOH PENDIDIKAN ISLAM
1.                 Organisasi Islam dan Pendidikan Islam di Indonesia
a.               Al-Jam’iat Al-Khairiyah
b.              Al-Islah Wal Irsyad
c.               Persyerikatan Ulama
d.              Muhammadiyah
e.               Nahdatul Ulama’
f.                  Persatuan Islam
2.             Jenis-jenis Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia
a.               Lembaga pendidikan Islam sebelum kemerdekaan Indonesia.
b.              Lembaga pendidikan Islam sesudah Indonesia merdeka.
3.             Tokoh-tokoh pendidikan Islam di Indonesia
a.               Kyai Haji Ahmad Dahlan (1869-1923)
b.              Kyai Haji Kasyim Asy’ari (1871-1947)
c.               KH. Abdul Halim (1887-1962)
d.              Dll.

C.     SISTEM PENDIDIKAN ISLAM
Tersiarnya agama Islam di Indonesia diwarnai oleh dua kondisi yang kurang menuntungkan yaitu :
1.                 Akibat-akibat kemunduran dunia Islam dengan jatuhnya Andalusia.
2.             Kondisi peradaban yang telah ada di Indonesia lebih dahalu yaitu peradaban Budha dan Hindu.
Kegiatan untuk membenahi, mempengaruhi dan menyempurnakan sistem pendidikan Islam :
1.                 Semakin banyakknya kaum muslimin yang bisa menunaikan ibadah haji ke Makkah dan belajar agama di sana.
2.             Pengaruh sistem pendidikan Barat yang mempunyai program yang lebih terkoodinir dan sistematis yang nyata telah berhasil.



BAB IV
PENUTUP

A.       Kesimpulan
Ilmu tarih  ialah suatu pengetahuan yang gunanya untuk mengetahui keadaan-keadaan atau kejadian-kejadian yang telah lampau maupun yang sedang terjadi di kalangan umat.
Obyek dan metode sejarah pendidikan Islam. Sejarah biasanya ditulis dan dikaji dari sudut pandangan suatu fakta atau kejadian tentang peradaban bangsa5.  Maka obyek sejarah pendidikan islam mencakup fakta-fakta yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam bail informal, formal maupun non formal.
Kegunaan sejarah pendidikan Islam. Yang besifat umum, sejarah pendidikan Islam mempunyai keguanaan sebagai faktor keteladanan. Dan yang besifat akademis, keguanaan sejarah pendidikan Islam selain memberikan perbendaharaan perkembangan ilmu pengetahuan (teori dan praktek), juga untuk menumbuhkan perspektif baru dalam rangka mencari relevansi pendidikan Islam terhadap segala bentuk perubahan dan perkembangan ilmu teknologi.
Periodisasi pendidikan Islam. Kemudian perinciannya dapat dibagi menjadi lima  masa, yaitu :
1.                 Masa hidupnya Nabi Muhammad SAW (571-632)
2.             Masa Khalifah empat (Khulafaur Rasyidin : Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali di Madinah (632-661 M) ;
3.             Masa kekuasaan Umawiyah di Damsyik (661-750 M) ;
4.             Masa kekuasaan Abbasiyah di Bagdad (750-1250 M) ; dan
5.              Masa dari jatuhnya kukuasaan khalifah di Bagdad tahun 1250 M sampai sekarang.
Proses pendidikan sebenarnya telah berlangsung sepanjang sejarah dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial budaya manusia di muka bumi.
Pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam, terbagi menjadi 5 periode, yaitu :
1.                 Periode pembinaan pendidikan Islam, yang berlangsung sejak zaman Nabi Muhammad SAW.
2.             Periode pertumbuhan pendidikan Islam, yang berlangsung sejak Nabi Muhammad SAW wafat sampai masa akhir Bani Umaiyah, yang diwarnai dengan berkembangnya ilmu-ilmu naqliah.
3.             Periode kejaan (puncak perkembangan) pendidikan Islam, yang berlangsung sejak permulaan daulah Abbasiyah samapai dengan jatuhnya Bagdad, yang diwarnai oleh berkembangnya ilmu akliah dan timbulnya madrasah, serta memuncakknya perkembangan kebudayaan Islam.
4.             Periode pembaharuan pendidikan Islam, yang berlangsung sejak pendudukan Mesir oleh Napoleon samapai masa kini, yang ditandai gejala-gejala kebangkitan kembali umat dan kebudayaan Islam.
Masa kejayaan pendidikan Islam. Masa ini ditandai dengan berkembang luasnya lembaga-lembaga pendidikan Islam dan madrasah-madrasah (sekolah-sekolah) formal serta universitas-universitas dalam berbagai pusat kebudayaan Islam.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Loading...

My New Style

My New Style

My Family

My Family
Miyya Kak Cintha and Family

Prambanan In Action

Prambanan In Action

Kakak Miya

Kakak Miya

PKN STAIMUS 2013

PKN STAIMUS 2013
Mahasiswa PKN dan Peserta Lomba TPQ

PKN 2013 STAIMUS

PKN 2013 STAIMUS

Entri Populer

Fish