13 Maret 2012

Manajemen Pendidikan


Manajemen Pendidikan
Drs. H. Mukhtar Hayuni, M. Hum.

1.   Ketrampilan Manager
a.   Pengertian Manager
Manager adalah seseorang yang bekerja melalui orang lain dengan mengoordinasikan kegiatan-kegiatan mereka guna mencapai sasaran organisasi, seorang yang karena pengalaman, pengetahuan, dan keterampilannya diakui oleh organisasi utk memimpin, mengatur, mengelola, mengendalikan dan mengembangkan kegiatan organisasi dalam rangka mencapai tujuan.
b.   Ketrampilan Manager
Robert l. katz pada tahun 1970-an mengemukakan bahwa setiap manager membutuhkan minimal tiga keterampilan dasar. ketiga keterampilan tersebut adalah:
ü Keterampilan Konseptual (Conceptional Skill)
Manager tingkat atas (top manager) harus memiliki keterampilan untuk membuat konsep, ide, dan gagasan demi kemajuan organisasi. gagasan atau ide serta konsep tersebut kemudian haruslah dijabarkan menjadi suatu rencana kegiatan untuk mewujudkan gagasan atau konsepnya itu. proses penjabaran ide menjadi suatu rencana kerja yang kongkret itu biasanya disebut sebagai proses perencanaan atau planning. oleh karena itu, keterampilan konsepsional juga meruipakan keterampilan untuk membuat rencana kerja.
ü Keterampilan Berhubungan dengan Orang Lain (Humanity Skill)
Selain kemampuan konsepsional, manager juga perlu dilengkapi dengan keterampilan berkomunikasi atau keterampilan berhubungan dengan orang lain, yang disebut juga keterampilan kemanusiaan. komunikasi yang persuasif harus selalu diciptakan oleh manager terhadap bawahan yang dipimpinnya. dengan komunikasi yang persuasif, bersahabat, dan kebapakan akan membuat karyawan merasa dihargai dan kemudian mereka akan bersikap terbuka kepada atasan. Keterampilan berkomunikasi diperlukan, baik pada tingkatan manajemen atas, menengah, maupun bawah.

ü Keterampilan Teknis (Technical Skill)
Keterampilan ini pada umumnya merupakan bekal bagi manager pada tingkat yang lebih rendah. keterampilan teknis ini merupakan kemampuan untuk

menjalankan suatu pekerjaan tertentu, misalnya menggunakan program komputer, memperbaiki mesin, membuat kursi, akuntansi dan lain-lain.

Selain tiga keterampilan dasar di atas, ricky w. griffin menambahkan dua keterampilan dasar yang perlu dimiliki manager, yaitu:
1.     Keterampilan manajemen waktu.
Merupakan keterampilan yang merujuk pada kemampuan seorang manager untuk menggunakan waktu yang dimilikinya secara bijaksana. griffin mengajukan contoh kasus lew frankfort dari coach. pada tahun 2004, sebagai manager, frankfort digaji $2.000.000 per tahun. jika diasumsikan bahwa ia bekerja selama 50 jam per minggu dengan waktu cuti 2 minggu, maka gaji frankfort setiap jamnya adalah $800 per jam—sekitar $13 per menit. dari sana dapat kita lihat bahwa setiap menit yang terbuang akan sangat merugikan perusahaan. kebanyakan manager, tentu saja, memiliki gaji yang jauh lebih kecil dari frankfort. namun demikian, waktu yang mereka miliki tetap merupakan aset berharga, dan menyianyiakannya berarti membuang-buang uang dan mengurangi produktivitas perusahaan.
2.     Keterampilan membuat keputusan
Merupakan kemampuan untuk mendefinisikan masalah dan menentukan cara terbaik dalam memecahkannya. kemampuan membuat keputusan adalah yang paling utama bagi seorang manager, terutama bagi kelompok manager atas (top manager). griffin mengajukan tiga langkah dalam pembuatan keputusan. pertama, seorang manager harus mendefinisikan masalah dan mencari berbagai alternatif yang dapat diambil untuk menyelesaikannya. kedua, manager harus mengevaluasi setiap alternatif yang ada dan memilih sebuah alternatif yang dianggap paling baik. dan terakhir, manager harus mengimplementasikan alternatif yang telah ia pilih serta mengawasi dan mengevaluasinya agar tetap berada di jalur yang benar.

c.    Ketrampilan Konsep Manager
Robert L.Katz pada tahun 1970-an mengemukakan bahwa setiap manajer membutuhkan minimal tiga keterampilan dasar. Ketiga keterampilan tersebut adalah:
1.     Keterampilan konseptual (conceptional skill), manajer tingkat atas (top manager) harus memiliki keterampilan untuk membuat konsep, ide, dan gagasan demi kemajuan organisasi. Gagasan atau ide serta konsep tersebut kemudian haruslah dijabarkan menjadi suatu rencana kegiatan untuk mewujudkan gagasan atau konsepnya itu. Proses penjabaran ide menjadi suatu rencana kerja yang kongkret itu biasanya disebut sebagai proses perencanaan atau planning. Oleh karena itu, keterampilan konsepsional juga meruipakan keterampilan untuk membuat rencana kerja.

2.     Keterampilan berhubungan dengan orang lain (humanity skill), selain kemampuan konsepsional, manajer juga perlu dilengkapi dengan keterampilan berkomunikasi atau keterampilan berhubungan dengan orang lain, yang disebut juga keterampilan kemanusiaan. Komunikasi yang persuasif harus selalu diciptakan oleh manajer terhadap bawahan yang dipimpinnya. Dengan komunikasi yang persuasif, bersahabat, dan kebapakan akan membuat karyawan merasa dihargai dan kemudian mereka akan bersikap terbuka kepada atasan. Keterampilan berkomunikasi diperlukan, baik pada tingkatan manajemen atas, menengah, maupun bawah.
3.     Keterampilan teknis (technical skill), keterampilan ini pada umumnya merupakan bekal bagi manajer pada tingkat yang lebih rendah. Keterampilan teknis ini merupakan kemampuan untuk menjalankan suatu pekerjaan tertentu, misalnya menggunakan program komputer, memperbaiki mesin, membuat kursi, akuntansi dan lain-lain.

Selain
tiga keterampilan dasar di atas, Ricky W.Griffin menambahkan dua keterampilan dasar yang perlu dimiliki manajer, yaitu:

1.     Keterampilan Manajemen Waktu

Merupakan
keterampilan yang merujuk pada kemampuan seorang manajer untuk menggunakan waktu yang dimilikinya secara bijaksana. Griffin mengajukan contoh kasus Lew Frankfort dari Coach. Pada tahun 2004, sebagai manajer, Frankfort digaji $2.000.000 per tahun. Jika diasumsikan bahwa ia bekerja selama 50 jam per minggu dengan waktu cuti 2 minggu, maka gaji Frankfort setiap jamnya adalah $800 per jam—sekitar $13 per menit. Dari sana dapat kita lihat bahwa setiap menit yang terbuang akan sangat merugikan perusahaan. Kebanyakan manajer, tentu saja, memiliki gaji yang jauh lebih kecil dari Frankfort. Namun demikian, waktu yang mereka miliki tetap merupakan aset berharga, dan menyianyiakannya berarti membuang-buang uang dan mengurangi produktivitas perusahaan.

2.     Keterampilan Membuat Keputusan

Merupakan
kemampuan untuk mendefinisikan masalah dan menentukan cara terbaik dalam memecahkannya. Kemampuan membuat keputusan adalah yang paling utama bagi seorang manajer, terutama bagi kelompok manajer atas (top manager). Griffin mengajukan tiga langkah dalam pembuatan keputusan. Pertama, seorang manajer harus mendefinisikan masalah dan mencari berbagai alternatif yang dapat diambil untuk menyelesaikannya. Kedua, manajer harus mengevaluasi setiap alternatif yang ada dan memilih sebuah alternatif yang dianggap paling baik. Dan terakhir, manajer harus mengimplementasikan alternatif yang telah ia pilih serta mengawasi dan mengevaluasinya agar tetap berada di jalur yang benar.


d.   Ketrampilan Manusiawi
Secara umum, terdapat emat keterampilan manajer pada masing-masing tingkat manajer:
ü Keterampilan konseptual
Ketrampilan atau kemampuan mental untuk mengkordinasikan dan mengintegrasikan seluruh kepentingan dan kegiatan organisasi.
ü Keterampilan Kemanusiaan
Kemampuan untuk saling bekerja sana dengan memahami dan memotivasi orang lain.
ü Keterampilan Administrasi
Kemampuan yang ada hubungannya dengan fungsi manajemen yang dilakukan.
ü Keterampilan Teknik
Kemampuan untuk menggunakan peralatan-peralatan, prosedur, dan metode dari suatu bidang tertentu.
2.   Kepemimpinan dalam organisasi sekolah
a)   Pengertian kepemimpinan
Para ahli merumuskan definisi kepemimpinan, sebagai berikut:
1.     Fiedler [1967], kepemimpinan pada dasarnya merupakan pola hubungan antara individu-individu yang menggunakan wewenang dan pengaruhnya terhadap kelompok orang agar bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan.
2.     John Pfiffner, kepemimpinan adalah kemampuan mengkoordinasikan dan memotivasi orang-orang dan kelompok untuk mencapai tujuan yang di kehendaki.
3.     Davis [1977], mendefinisikan kepemimpinan adalah kemampuan untuk mengajak orang lain mencapai tujuan yang sudah ditentukan dengan penuh semangat .
4.     Ott [1996], kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai proses hubungan antar pribadi yang di dalamnya seseorang mempengaruhi sikap, kepercayaan, dan khususnya perilaku orang lain.

b)   Peranan pemimpinan

Jika demikian, apa yang dimaksud dengan principle-centered leader models – model pemimpin yang berlandaskan prinsip – saya menganggap bahwa anda dapat membagi kepemimpinan dalam tiga fungsi atau kegiatan dasar :

pathfinding (pencarian alur), aligning (penyelarasan dan empowerment (pemberdayaan).
Pathfinding (Pencarian Alur)
Esensi dan kekuatan dari pathfinding (pencarian alur) diperoleh dalam visi dan misi yang pasti. Pathfinding akan memiliki arti yang lebih mendalam di masa depan. Pencarian ini membuat budaya dibekali dan terangsang mengenai suatu tujuan yang lebih bernilai. Tetapi, berkaitan dengan apa? Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan pemegang saham lain yang terlibat. Untuk itulah, pathfinding mengikat sistem nilai dan visi anda dengan kebutuhan pelanggan melalui suatu perencanaan strategis. Saya menyebut hal ini sebagai the strategic pathway (jalur strategis).
Aligning (Penyelarasan)
Kegiatan kedua dari seorang pemimpin adalah aligning (penyelarasan) yang terdiri atas upaya memastikan bahwa struktur, sistem,dan proses operasional organisasi anda memberi dukungan pada tercapainya misi dan visi dalam memenuhi kebutuhan pelanggan dan pemegang saham lain yang terlibat. Mereka tidak merintangi, tidak menyaingi, dan tidak menguasai. Tujuannya hanya memberi dukungan. Leverage (penyetaraan) terbesar dari prinsip penyelarasan muncul jika bawahan anda merasa selaras dengan misi, visi, dan strategi anda. Bila mereka menghayati pemahaman akan kebutuhan, berbagi keterikatan yang kuat untuk mencapai visi, terpanggil utnuk menciptakan dan secara kontinu memperbaiki struktur dan sistem yang memenuhi kebutuhan, ini berarti anda memiliki penyelarasan. Tanpa kondisi manusiawi ini, anda tidak dapat memperoleh mutu yang berkelas dunia dan apa yang anda capai hanyalah program-program rapuh. Pada akhirnya, kita harus memahami bahwa program dan sistem memang sangat penting, akan tetapi tetap oranglah pemrogramnya.
Empowerment (Pemberdayaan)
Kegiatan ketiga seorang pemimpin adalah pemberdayaan. Apa yang dimaksud dengan pemberdayaan? Orang memiliki bakat, kecerdikan, kecerdasan, dan kreativitas luar biasa, tetapi kebanyakan sifat itu masih belum terungkap. Jika anda secara benar bekerja sama erat menuju visi dan misi bersama, anda mulai berbagi misi dengan orang-orang itu. Tujuan dan misi perorangan dipersatukan dengan misi organisasi. Bila tujuan-tujuan itu saling mengisi, maka terciptalah sinergi yang besar. Suatu semangat digerakkan dalam diri orang-orang yang mengungkapkan bakat, kecerdikan, dan kreativitas laten untuk mampu mengerjakan apa pun dan konsisten dengan prinsip-prinsip yang disepakati untuk mencapai nilai, visi dan misi bersama dlam melayani kebutuhan pelanggan dan pemegang saham lain yang terlibat. Ini yang disebut pemberdayaan.


c)    Tipologi dan teori kepimpinan
A.   Teori Timbulnya Kepemimpinan
Di antara berbagai teori yang menjelaskan sebab-sebab timbulnya kepemimpinan terdapat tiga teori yang menonjol, yaitu :
1. Teori Keturunan (Heriditary Theory)
2. Teori Kejiwaan (Psychological Theory)
3. Teori Lingkungan (Ecological Theory)

Masing – masing teori dapat dikemukakan secara singkat :
1. Teori Keturunan Inti daripada teori ini, ialah :
a. Leaders are born not made.
b. Seorang pemimpin menjadi pemimpin karena bakat – bakat yang dimiliki sejak dalam kandungan.
c. Seorang pemimpin lahir karena memamng ditakdirkan. Dalam situasi apapun tetap muncul menjadi pemimpin karena bakat-bakatnya.

2. Teori Kejiwaan.
a. Leaders are made and not born.
b. Merupakan kebalikan atau lawan dari teori keturunan.
c. Setiap orang bias menjadi pemimpin melalui proses pendidikan dan pengalaman yang cukup.

3. Teori Ekologis
a. Timbul sebagai reaksi terhadap teori genetis dan teori social.
b. Seseorang hanya akan berhasil menjadi seorang pemimpin, apabila pada waktu ahir telah memiliki bakat, dan bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui proses pendidikan yang teratur dan pengalaman.
c. Teori ini memanfaatkan segi-segi positif teori genetis dan teori social.
d. Teori yang mendekati kebenaran.

B. Teori Kepemimpinan Berdasarkan Sifat
Di tinjau dari segi sejarah, pemimpin atau kepemimpinan lahir sejak nenek moyang, sejak terjadinya hubungan kerjasama atau usaha bersama antara manusia yang satu dengan dengan manusia yang lain untuk menjapai tujuan bersama yang telah ditetapkan. Jadi kepemimpinan lahir bersama – sama timbulnya peradaban manusia.

• Machiavelli
Ia terkenal tentang nasehatnya mengenai kebijaksanaan yang harus dimiliki oleh seorang Perdana Mentri, yaitu antara lain harus mempunyai keahlian dalam :


a.     Upacara – upacara ritual, kebaktian keagamaan
b.     Peratuaran dan perundang – undangan
c.      Pemindahan dan pengangkutan
d.     Pemberian honorium/pembayaran dan kepangkatan
e.      Upacara – upacara dan adat kebiasaan.
f.      Pemindahan pegawai untuk menhindarkan kegagalan
g.      Bertani dan pekerjaan lainnya.

• Empuh Prapanca dengan bukunya yang terkenal Negara
Kertagama menyebut 15 sifat yang baik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu:
a)     Wijana, sikap bijaksana
b)     Mantri wira, sebagai pembela negara sejati
c)      Wicaksaning naya, bijaksana dalam arti melihat masa lalu, kemampuan analisa, mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.
d)     Matanggwan, mendapat kepercayaan yang tinggi dari yang dipimpinnya.
e)      Satya bakti haprabu, setia dan bakati kepada atasan (loyalitas).
f)      Wakjana, pandai berpidato dan berdiplomasi.
g)      Sajjawopasama, tidak sombong, rendah hati, manusiawi.
h)     Dhirrottsaha, bersifat rajin sungguh- sungguh kreatif dan penuh inisiatif.
i)       Tan-lalana, bersifat gembira, periang.
j)       Disyacitra, Jujur terbuka.
k)     Tancatrisan, tidak egoistis.
l)       Masihi Samastha Bhuwana, bersifat penyayang, cinta alam.
m)   Ginong Pratidina, tekun menegakkan kebenaran.
n)     Sumantri, sebagai abdi negara yang baik.
o)      Ansyaken musuh, mampuh memusnakan setiap lawan.

• Ajaran Hasta Brata.
Hasta Bhrata (delapan pedoman pilihan) yang terdapat dalam kitab Ramayana berisi sifat - sifat positif sebagai pedoman bagi setiap pemimpin adalah :
a)     Sifat matahari (surya) Yaitu:
ü Menerangi dunia dan memberi kehidupan pada semua mahluk.
ü Menjadi penerang selurah rakyat.
ü Jujur dan rajin bekerja sehingga negara aman dan sentosa.
b)     Sifat bulan (candra) yaitu:
ü Memberi penerangan terhadap rakyat yang sedang dalam kegelapan (kesulitan)

ü Menerangkan perasaan dan melindungi rakyat sehingga terasa tentram untuk menjalankan tugas masing- masing.
c)      Sifat Bintang (kartika) yaitu:
ü Menjadi pusat pandangan sumber susila dan budaya, dan menjadi suri tauladan
d)     Sifat Awan yaitu :
ü Dapat menciptakan kewibawaan
ü Tindakan mendorong agar rakyat tetap taat.
e)      Sifat Bumi yaitu:
ü Ucapanya sederhana.
ü Teguh, dan kokoh pendiriannya.
f)      Sifat Samudera,yaitu:
ü mempunyai pandangan yang luas
ü membuat rakyat seia sekata.
g)      Sifat Api (Agni) yaitu:
ü Menghukum siapa saja yang bersalah tanpa pandang bulu.
h)     Sifat Angin (Bayu) yaitu :
ü terbuka dan tidak ragu – ragu terhadap semua masalah.
ü Bersikap adil terhadap siapa pun.

• The Traits and abilities Theory yang dikemukakan oleh stogdill dengan menekan pada kwalitas individu dan terdapat relevansi yang erat antara sifat dan kepemimpinan (capacity, status, participation, responsibility, achievement).

C. Teori Kepemimpinan Berdasarkan Tingkah Laku
Dengan memusatkan pada ciri-ciri dan gaya yang dimiliki oleh setiap pemimpin yang bersangkutan, mereka yakin akan berhasil dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya. Sehingga gaya dan ciri-ciri tersebut akan menimbulkan berbagai tipe.

Ada beberapa tipe kepemimpinan.
a)     Tipe Otoriter
Tipe ini mempunyai sifat-sifat:
a. Semua kebijaksanaan ditentukan oleh pemimpin
b. Organisasi dianggap milik pribadi pemimpin
c. Segala tugas dan pelaksanaannya ditentukan oleh pemimpin .
d. Kurang ada partisipasi dari bawahan .
e. Tidak menerima kritik, saran dan pendapat bawahan .



b)     Tipe Demokratis
a. Semua kebijaksanaan dan keputusan dilakukan sebagai hasil diskusi dan musyawarah .
b. Kebijaksanaan yang akan dating ditentukan melalui musyawarah dan diskusi.
c. Anggota kelompok, bebas bekerjasama dengan anggota yang lain, dan berbagai tugas diserahkan kepada kelompok .
d. Kritik dan pujian bersifat objektif dan berdasarkan fakta-fakta .
e. Pemimpin ikut berpartisipasi dalam kegiatan sebagai anggota biasa .
f. Mengutamakan kerjasama .
c)      Tipe Semuanya
a. Kebebasan diberikan sepenuhnya kepada kelompok atau perseorangan di dalam pengambilan kebijaksanaan maupun keputusan .
b. Pemimpin tidak terlibat dalam musyawarah kerja.
c. Kerjasama antara anggota tanpa campur tangan pemimpin.
d. Tidak ada kritik, pujian atau usaha mengatur kegiatan pemimpin.
          Di samping ketiga gaya kepemimpinan diatas Sondang P.Siagian, MPA.,Ph.D. mengemukakan tipe pemimpin yang lain, ialah:
d)     Tipe Militeristis
a. Lebih sering mempergunakan perintah terhadap bawahan .
b. Perintah terhadap bawahan sangat tergantung pada pangkat dan jabatan .
c. Menyenangi hal-hal yang bersifat formal .
d. Sukar menerima kritik .
e. Menggemari berbagai upacara .
e)      Tipe Paternalistik
a. Bersikap melindungi bawahan .
b. Bawahan dianggap manusia yang belum dewasa .
c. Jarang ada kesempatan pada bawahan untuk mengambil inisiatif
d. Bersikap maha tahu .
f)      Tipe Karismatis
a. Mempunyai daya tarik yang besar, oleh karenanya mempunyai pengikut yang besar .
b. Daya tarik yang besar tersebut kemungkinan disebabkan adanya kekuatan gaib (supernature) .

Disamping teori yang telah dikemukakan diatas, ada teori lain yang Dikemukakan oleh W.J. Reddin dalam artikelnya yang berjudul “What Kind of Manager”. Ada tiga pola dasar yang dapat dipakai untuk menentukan watak atau tipe seorang pemimpin. Ketiga pola dasar tersebut :


1. Berorientasi tugas (task orientation).
2. Berorientasi pada hubungan kerja (Relationship orientation).
3. Berorientasi pada hasil (effectiveness orientation).

Berdasarkan sedikit banyaknya orientasi atau penekanan ketiga hal diatas pada diri seorang pemimpin akan dapat ditentukan delapan tipe pemimpin masing-masing ialah:
1. Deserter
2. Bureaucrat
3. Missionary
4. Developer
5. Autocrat
6. Benevolent autocrat
7. Compromiser
8. Executive

i)    Prilaku pemimpinan yang evektif
Jadi seorang pemimpin yang efektif harus mempunyai keberanian untuk mengambil keputusan dan memlkul tanggung jawab atas aklbat dan resiko yang timbul sebagai konsekwensi daripada keputusan yang diambilnya Tentunya dalam mengambil keputusan.

Seorang pemimpin harus punya pengetahuan, keterampilan, informasi yang mendalam dalam proses menyaring satu keputusan yang tepat. Disamping itu, seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dapat mempengaruhi dan mengarahkan segala tingkah laku dari bawahan sedemikian rupa sehingga segala tingkah laku bawahan sesuai dengan keinginan pimpinan yang bersangkutan. Untuk itu seorang pemimpin setidaknya harus memiliki kriteria-kriteria tertentu, misalnya kemampuan bisa “perceptive” dan objektif.

Dalam mengarahkan dan memotivasi bawahan agar melakukan pekerjaan dengan sesuai, seorang pemimpin bisa memilih suatu gaya kepemimpinan apakah gaya autokratis, gaya partisipatif dan bahkan gaya Free Rein yang sesuai dengan situasi dan lingkungan para bawahan. Hanya dengan jalan demikian pencapaian tujuan dapat terlaksana dengan efisien dan efektif.

3.   Manajemen berdasarkan sasaran
a.   Kegiatan manajemen berdasarkan sasaran
1.     Menentukan Sasaran yaitu Proses pengambilan keputusan bersama karyawan didorong untuk mengambil peranan yang penting dalam menyatakan ide.
2.     Menspesifikasikan Rencana Tindakanya merupakan rencana tindakan yang realitis disetujui oleh manajer dan bawahnya, dan ditulis dengan teliti untuk penelaahan berkala.


3.     Penelahaan Performa merupakan suatu proses motorisasi oleh manajer secara berkala kepada bawahannya untuk menelaah kemajuan terhadap sasaran. Penelaahan dilakukan minimal sekali dalam setahun.
4.     Koreksi dan Adaptasi adalah Tindakan Korektif di ambil setelah penelaahan Performa.

Selain diatas bisa juga berdasarkan :
1. Definisi
2. Unsur-unsur
3. Hipotesa
4. Kondisi Fundamental
5. Premis
6. Asas-asas
7. Pedoman Perumusan Sasaran

b.   Langkah – langkah melaksanakan manajemen berdasarkan sasaran
c.    Batas-batas pelaksanaannya
4.   Pengertian dan tujuan manajemen pendidikan
a.   Pengertian manajemen
Menurut G.R. Terry, manajemen
adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau
pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau
maksud-maksud yang nyata. Manajemen juiga adalah suatu ilmu pengetahuan maupun seni. Seni adalah suatu pengetahuan bagaimana mencapai hasil yang diinginkan atau dalm kata lain seni adalah kecakapan yang diperoleh dari pengalaman, pengamatan dan pelajaran serta kemampuan untuk menggunakan pengetahuan manajemen.

Menurut Mary Parker Follet, manajemen adalah suatu seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan melalui orang lain. Definisi dari mary ini mengandung perhatian pada kenyataan bahwa para manajer mencapai suatu tujuan organisasi dengan cara mengatur orang-orang lain untuk melaksanakan apa saja yang pelu dalam pekerjaan itu, bukan dengan cara melaksanakan pekerjaan itu oleh dirinya sendiri.

Itulah manajemen, tetapi menurut Stoner bukan hanya itu saja. Masih banyak lagi sehingga tak ada satu definisi saja yang dapat diterima secara universal. Menurut James A.F.Stoner, manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.



b.   Pengertian pendidikan

Pengertian pendidikan menurut prof dr john dewey
Pendidikan adalah suatu proses pengalaman karena kehidupan adalah pertumbuhan. Pendidikan berarti membantu pertumbuhan batin tanpa dibatasi oleh usia. Proses pertumbuhan ialah proses menyesuaikan pada tiap-tiap fase serta menambahkan kecakapan di dalam perkembangan seseorang.

Pengertian pendidikan menurut prof h mahmud yunus
Pendidikan adalah usaha-usaha yang sengaja dipilih untuk mempengaruhi dan membantu anak dengan tujuan peningkatan keilmuan jasmani dan akhlak sehingga secara bertahap dapat mengantarkan si anak kepada tujuannya yang paling tinggi, agar si anak hidup bahagia serta seluruh apa yang dilakukanya menjadi bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat.

Pengertian pendidikan menurut prof herman h horn
Pendidikan adalah proses abadi dari penyesuaian lebih tinggi bagi makhluk yang telah berkembang secara fisk dan mental yang bebas dan sadar kepada tuhan seperti termanifestasikan dalam alam sekitar intelektual emosional dan kemauan dari manusia.



Pengertian pendidikan menurut m.j langeveld
Pendidikan adalah setiap pergaulan yang terjadi antara orang dewasa dengan anak-anak dan  merupakan lapangan atau suatu keadaan dimana pekerjaan mendidik itu berlangsung.

Pengertian pendidikan menurut kamus besar bahasa indonesia 1991
Pendidikan diartikan sebagai proses pembelajaran bagi individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek-obyek tertentu dan spesifik. Pengetahuan tersebut diperoleh secara formal yang berakibat individu mempunyai pola pikir dan perilaku sesuai dengan pendidikan yang telah diperolehnya.

Pengertian pendidikan menurut wikipedia
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Pengertian pendidikan secara umum
Dari beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat.

c.    Pengertian manajemen pendidikan
Pengertian Manajemen Pendidikan
Secara sederhana manajemen pendidikan adalah suatu lapangan dari studi dan praktik yang terkait dengan organisasi pendidikan. Sehingga diharapkan melalui kegiatan manajemen pendidikan tersebut, tujuan pendidikan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
Berikut ini merupakan defenisi manajemen pendidikan dari beberapa ahli:

d.   Tujuan manajemen pendidikan
ð Dari beberapa pendapat para penulis di atas dapat dikombinasikan, fungsi-fungsi manajemen adalah sebagai berikut:
a)     Planning (Perencanaan)

Berbagai batasan tentang planning dari yang sangat sederhana sampai dengan yang sangat rumit. Misalnya yang sederhana saja merumuskan bahwa perencanaan adalah penentuan serangkaian
tindakan untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan. Pembatasan yang terakhir
merumuskan perencaan merupakan penetapan jawaban kepada enam pertanyaan berikut :

1. Tindakan apa yang harus dikerjakan?
2. Apakah sebabnya tindakan itu harus dikerjakan?
3. Di manakah tindakan itu harus dikerjakan?
4. kapankah tindakan itu harus dikerjakan?
5. Siapakah yang akan mengerjakan tindakan itu?
6. Bagaimanakah caranya melaksanakan tindakan itu?


b)     Organizing (Pengelompokan)
Organizing (organisasi) adalah dua orang atau lebih yang bekerja sama dalam cara yang terstruktur untuk mencapai sasaran spesifik atau sejumlah sasaran.
c)      Directing/Commanding (Komando/Bimbingan)
Directing atau Commanding adalah fungsi manajemen yang berhubungan dengan usaha memberi bimbingan, saran, perintah-perintah atau instruksi kepada bawahan dalam melaksanakan tugas masing-masing, agar tugas dapat dilaksanakan dengan baik dan benar-benar tertuju pada tujuan yang telah ditetapkan semula.
d)     Motivating (Motivasi)
Motivating atau pemotivasian kegiatan merupakan salah satu fungsi manajemen berupa pemberian inspirasi, semangat dan dorongan kepada bawahan, agar bawahan melakukan kegiatan secara suka rela sesuai apa yang diinginkan oleh atasan.
e)      Coordinating (Koordinasi)
Coordinating atau pengkoordinasian merupakan salah satu fungsi manajemen untuk melakukan berbagai kegiatan agar tidak terjadi kekacauan, percekcokan, kekosongan kegiatan, dengan jalan menghubungkan, menyatukan dan menyelaraskan pekerjaan bawahan sehingga terdapat kerja sama yang terarahdalam upaya mencapai tujuan organisasi.
f)      Controlling (Pengawasan)
Controlling atau pengawasan, sering juga disebut pengendalian adalah salah satu fungsi manajemen yang berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa
yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan maksud dengan
tujuan yang telah digariskan semula.

g)      Reporting (Laporan)
Reporting adalah salah satu fungsi manajemen berupa penyampaian perkembangan atau hasil kegiatan atau pemberian keterangan mengenai segala hal yang bertalian dengan tugas dan fungsi-fungsi kepada pejabat yang lebih tinggi.
h)     Staffing (Penyusunan)
Staffing merupakan salah satu fungsi manajemen berupa penyusunan personalia pada suatu organisasi sejak dari merekrut tenaga kerja, pengembangannya sampai dengan usaha agar setiap tenaga memberi daya guna maksimal kepada organisasi.




i)       Forecasting (Prediksi)
Forecasting adalah meramalkan, memproyeksikan, atau mengadakan taksiran terhadap berbagai kemungkinan yang akan terjadi sebelum suatu rancana yang lebih pasti dapat dilakukan.
j)       Evaluating (Evaluasi)
Evaluating adalah proses pengawasan dan pengendalian performa perusahaan untuk memastikan bahwa jalannya perusahaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Seorang manajer dituntut untuk menemukan masalah yang ada dalam operasional perusahaan kemudian memecahkannya sebelum masalah itu menjadi semakin besar.

ð FUNGSI MANAGER
Manager bertugas untuk menjalankan fungsi-fungsi managerial dalam suatu instansi atau organisasi. fungsi2 managerial :
1.     Fungsi perencanaan (planning) dari suatu kebijakan yang akan diambil perusahaan serta memprediksikan hasil yang akan didapatkan dari tindakan yang akan diambil tsb.
2.     Fungsi pengaturan (organizing), yaitu mengatur, membentuk, mendelegasikan dan menerapkan jalur suatu wewenang / tanggungjawab dan sistem komunikasi, serta mengoordinir kerja setiap anggota organisasi/instansi.
3.     Fungsi pengawasan (controlling), yaitu mencakup persiapan atau standar kualitas dan kuantitas hasil kerja, baik dalam bentuk produk ataupun jasa yg diberikan pada perusahaan dalam rangka memberikan pencapaian tujuan perusahaan.
4.     Fungsi kepemimpinan (leading) yang membuat oranglain / melakukan pekerjaan, mendorong, memotivasi serta menciptakan iklim pekerjaan yang baik.
5.     Fungsi evaluating, yaitu menganalisa hasil dari seluruh kegiatan yang telah dilakukan melalui analisis SWOT.


5.   Pendidikan sebagi pemasok tenaga kerja terdidik

6.   Isu –isu manajemen pendidikan

7.   Ruang lingkup manajemen pendidikan
Manajemen pendidikan seringkali distilahkan dengan administrasi sekolah seperti halnya dalam Kurikulum 1984 (Palam Buku Petunjuk Pengelolaan) disebutkan bahwa administrasi sekolah (maksudnya manajemen pendidikan) mencakup pengaturan, proses belajar-mengajar, kesiswaan, personalia, peralatan



pengajaran, gedung dan perlengkapan, keuangan serta humas atau hubungan dengan masyarakat.
Ruang lingkup manajemen pendidikan itu meliputi segala hal yang pada dasarnya ditekankan pada pelaksanaan kegiatan usaha pendidikan supaya berjalan secara teratur dan tertib yang semua itu diorientasikan pada tujuan pendidikan. Karena itu butir-butir yang menjadi cakupan atau yang termasuk ke dalam skopa manajemen pendidikan sesungguhnya amat luas dan banyak.

Adapun secara umum, ruang lingkup manajemen pendidikan meliputi :
2.2.1        Manajemen Kurikulum
Kurikulum memiliki arti yang sangat luas, yaitu mencakup komponen yang lengkap terdiri dari rumusan tujuan pendidikan suatu lembaga sampai dengan penjabaranya dalam bentuk satuan acara perkuliahan yang akan dilakukan oleh seorang tenaga pengajar sehari-hari.
Pengelolaan kurikulum di sekolah harus melalui beberapa tahapan, dalam hal ini ada empat tahapan yang harus dilakukan, seperti :
1.     Tahap perencanaan; di mana pada tahap ini kurikulum perlu dijabarkan sampai menjadi rencana pengajaran.
2.     Tahap pengorganisasian dan koordinasi; kepala sekolah pada tahap ini mengatur pembagian tugas mengajar, penyusunan jadwal pelajaran dan jadwal kegiatan ekstrakurikuler.
3.     Tahap pelaksanaan; dalam tahap ini tugas utama kepala sekolah adalah melakukan supervisi dengan tujuan untuk membantu guru menemukan dan mengatasi kesulitan yang dihadapi.
4.     Tahap pengendalian; di mana dalam tahap ini ada dua aspek yang perlu diperhatikan, yaitu: jenis evaluasi dikaitkan dengan tujuannya dan pemanfaatan hasil evaluasi.
Dalam pelaksanaan kurikulum untuk menunjang keberhasilan sebuah lembaga pendidikan harus ditunjang hal-hal sebagai berikut:
1.     Tersedianya tenaga pengajar (guru) yang kompeten;
2.     Tersedianya fasilitas fisik atau fasilitas belajar yang memadai dan menyenangkan;
3.     Tersedianya fasilitas bantu untuk proses belajar mengajar;

4.     Adanya tenaga penunjang pendidikan, seperti tenaga administrasi, pembimbing, pustakawan;
5.     Tersedianya dana yang memadai;
6.     Manajemen yang efektif dan efisien;
7.     Terpeliharanya budaya yang menunjang, seperti nilai-nilai religius, moral, kebangsaan dan lain-lain;
8.     Kepemimpina pendidikan yang visioner, transparan dan akuntabel

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan kurikulum, yaitu:
1.     Pengembangan kurikulum tersebut harus memenuhi kebutuhan siswa;
2.     Mengembangkan keterampilan pengelolaan untuk menyajikan kurikulum tersebut kepada siswa sedapat mungkin secara efektif dan efisien dengan memperhatikan sumber yang ada;
3.     Pengembangan berbagai pendekatan yang mampu mengatur perubahan sebagai fenomena alamiah di sekolah
2.2.2         Manajemen Kesiswaan
Siswa sebagai peserta didik merupakan salah satu input yang ikut menentukan keberhasilan proses pendidikan. Pengelolaan mencakup penerimaan siswa baru, layanan bimbingan dan penyuluhan, pengelolaan siswa di dalam kelas, pengelolaan organisasi siswa intrasekolah dan pengelolaan data tentang siswa.

Berkenaan dengan manajemen kesiswaan, ada beberapa prinsip dasar yang harus mendapat perhatian berikut ini:
1.     siswa harus diperlakukan sebagai subjek dan bukan objek, sehingga harus didorong untuk berperan serta dalam setiap perencanaan dan pengambilan keputusan yang terkait dengan kegiatan mereka.
2.     Keadaan dan kondisi siswa sangat beragam, ditinjau dari kondisi fisik, kemampuan intelektual, sosial ekonomi, minat dan sebagainya. Oleh karena itu, diperlukan wahana kegiatan yang beragam sehingga setiap siswa memiliki wahana untuk berkembang secara optimal.

3.     Pada dasarnya siswa hanya akan termotivasi belajar, jika mereka menyenangi apa yang diajarkan
4.     Pengembangan potensi siswa tidak hanya menyangkut ranah kognitif, tetapi ranah efektif dan psikomotorik.
2.2.3        Manajemen Personalia Sekolah
Pada dasarnya yang dimaksud personalia di sini ialah orang-orang yang melaksanakan sesuatu tugas untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Dalam konteks lembaga pendidikan atau sekolah dibatasi dengan sebutan pegawai. Oleh sebab itu, personalia di sekolah meliputi unsur guru (tenaga pengajar) dan unsur karyawan (tenaga administratif). Secara lebih terperinci dapat disebutkan keseluruhan personalia sekolah, yaitu kepala sekolah, guru, pegawai tata usaha dan penjaga sekolah.
Dilihat dari prosesnya, manajemen personalia sekolah mencakup mulai dari pengadaan, pengangkatan, pembinaan, pengawasan, pemberhentian dan penugasan yang perlu dicermati untuk memperoleh sistem manajemen personalia yang paling cocok dalam pendidikan.Persoalan manajemen personalia lainnya menyangkut kriteria, pembentukan, pembinaan, pengawasan dan pengembangan profesi yang mungkin dalam suatu organisasi pendidikan terdiri dari berbagai ragam profesi.
2.2.4        Tata Laksana Sekolah
Masalah tata laksana sekolah pada dasarnya cukup kompleks, namun demikian untuk telaah dapat ditelusuri pemanfaatannya dari berbagai sisi yaitu :
a)      Segi jenisnya, secara makro seluruh lingkungan fisik dalam suatu satuan pendidikan yang dirancang untuk memberikan fasilitas dalam proses pendidikan, sepeti rancangan halaman, tata letak gedung, taman, prasarana jalan, tempat parkir dan lain-lain. Sementara itu, secara mikro ada tiga komponen sarana pendidikan yang secara langsung mempengaruhi kualitas hasil pembelajaran, yaitu buku pelajaran dan perpustakan, peralatan laboratorium beserta bahan praktiknya dan peralatan pendidikan di dalam kelas.
b)      Segi prosesnya, persoalan tata laksana sekolah berangkat dari desain, penyusunan naskah, standarisasi spesifikasi, penggandaan atau pengadaan

distribusi, sampai pada penempatan dalam sekolah yang berkaitan dengan dukungan prasarana yang diperlukan.
c)      Segi fungsi dan pemanfaatanya, terutama dalam konteks proses pembelajaran, yaitu alat pelajaran, alat peraga dan media pengajaran. Namun secara garis besarnya tata laksana sekolah meliputi lima hal, yaitu penentuan kebutuhan, proses pengadaan, pemakaian, pencatatan atau pengurusan dan pertanggungjawaban.

2.2.5        Manajemen Keuangan
Paling tidak ada tiga persoalan pokok dalam manajemen keuangan, yaitu financing, menyangkut dari mana sumber pembiayaan diperoleh, budgeting, bagaimana dana pendidikan dialokasikan dan accountability, bagaiamana anggaran yang diperoleh digunakan dan dipertanggungjawabkan.
Sumber anggaran pendidikan menjadi semakin kompleks, sistem pengalokasiannya juga melalui berbagai jalur sehingga pengelolaan penggunannya sampai kepada pertanggungjawabanya menjadi semakin kompleks. Sistem pengelolaan pembiayaan pendidikan di pusat, provinsi, kabupaten juga sangat berbeda karena wewenang dan perolehan anggaranya juga berbeda.
2.2.6        Organisasi Sekolah
Organisasi dapat diartikan sebagai memberi struktur atau susunan terutama dalam penyusunan atau penempatan orang-orang dalam suatu kelompok. Faktor lain yang menyebabkan perlunya organisasi sekolah yang baik ialah karena tugas guru-guru tidak hanya mengajar saja, juga pegawai-pegawai tata usaha, pesuruh dan penjaga sekolah semuanya harus bertanggunmg jawab dan diikutsertakan dalam menjalankan roda sekolah itu secara keseluruhan. Dengan demikian agar tidak terjadi overlapping (tabrakan) dalam memegang atau menjalankan tugasnya masing-masing, diperlukan organisasi sekolah yang baik dan teratur. Dengan organisasi sekolah yang baik dimaksudkan agar pembagian tugas dan tanggung jawab dapat merata kepada semua orang sesuai dengan kecakapan dan fungsinya masing-masing.



Adapun faktor yang dapat mempengaruhi perbedan-perbedaan dalam susunan organisasi sekolah, antara lain:
a.     Besar kecilnya sekolah
 Ada sekolah yang memepunyai banyak murid, banyak guru dan banyak pula ruangan belajarnya, tetapi ada pula yang sebaliknya.
b.      Letak sekolah
Letak sekolah atau lingkungan sekolah menetukan tokoh-tokoh masyarakat siapakah yang perlu diikutsertkan di dalam membangun dan membina sekolah itu.
c.      Jenis dan tingkatan sekolah
Sekolah kejuruan berbeda dengan sekolah umum, sekolah dasar tidak sama dengan SLTP/SLTA, dan berbeda pula dengan perguruan tinggi. Tujuan khusus tiap-tiap sekolah yang tidak sejenis itu tidak sama.

Untuk memberikan gambaran dan pengertian yang jelas, perlu dikemukakan suatu susunan organisasi sekolah sebagai contoh organisasi sekolah yang agak besar (SLTP/SLTA).





SRI SUDARSINI
02.7313
PAI STAIMUS
2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Loading...

My New Style

My New Style

My Family

My Family
Miyya Kak Cintha and Family

Prambanan In Action

Prambanan In Action

Kakak Miya

Kakak Miya

PKN STAIMUS 2013

PKN STAIMUS 2013
Mahasiswa PKN dan Peserta Lomba TPQ

PKN 2013 STAIMUS

PKN 2013 STAIMUS

Entri Populer

Fish